INTEGRASI TIMOR TIMUR

Oleh:

Rani Yuanita & Harib Margayani

 

Pengantar

Wilayah Timor Timur (Timtim)[1] membujur dari arah barat daya ke timur laut. Tanah di wilayah Timtim terdiri atas kapur sedimen, karang-karang, tanah liat, dan tidak vulkanik. Kondisi tanah yang tandus menyebabkan tidak banyak tumbuhan yang hidup di Timtim. Namun demikian, tanaman kopi merupakan kekayaan alam di wilayah Timtim.[2]

Bangsa Eropa yang pertama kali masuk ke Indonesia adalah Portugis. Pada akhir Tahun 1511, Portugis masuk ke Maluku untuk mencari rempah-rempah dan kayu cendana. Portugis mendapatkan rempah-rempah dari daerah Ambon, Banda, dan Ternate. Keinginan untuk mencari kayu cendana belum berhasil di Maluku dan akhirnya Portugis memperoleh kayu cendana di daerah Timor.

Keberhasilan Verenigne ost indische compagnie (VOC) di Maluku, Belanda  berpendapat bahwa Portugis harus segera diusir dari wilayah Indonesia. Portugis semakin terdesak oleh kekuasaan Belanda sehingga Portugis hanya dapat menguasai Timtim saja. Orang-orang portugis diperkirakan sudah berada di Timor Barat sebelum pertengahan Abad XVI.

Timtim dipandang sebagai bagian integral Negara Portugal. Tanggal 25 Maret di Portugal meletus Revolusi Bunga.[3] Dampak revolusi tersebut menghasilkan keputusan untuk memberikan pemerintahan sendiri kepada Timtim.[4]

Setelah terbentuk pemerintahan transisi, secara bertahap wilayah Timtim direncanakan akan dimerdekakan. Merespon hal tersebut, warga mulai mendirikan partai-partai politik.[5] Partai politik tersebut antara lain partai UDT (Uniao Democratica Timorense), Fretelin (Frente Revolutionaria de Timor Leste Independente), dan Apodeti (Associacao Populler democratic Timorense).[6] Selain partai tersebut muncul partai kecil Kota dan Trabalista yang sehaluan dengan Apodeti. Partai UDT bertujuan untuk memperjuangkan agar Timtim tetap di bawah Portugal. Fretelin bertujuan untuk otonomi menuju kemerdekaan sendiri, sedangkan Apodeti bertujuan untuk memperjuangkan integrasi Timor Timur dengan Republik Indonesia (RI).[7]

 

Faktor-faktor Integrasi Timtim ke dalam RI

  1. A.    Rakyat Timtim

Partai politik yang menyatakan pro integrasi antara Timtim dengan RI adalah Apodeti. Sebagai pesiapan integrasi, Apodeti mengusulkan bahasa Indonesia diajarkan untuk sekolah di Timtim akan tetapi Apodeti mendapat kecaman dari UDT dan Fretelin.[8] UDT dan Fretelin akhirnya berkoalisi, akan tetapi tanggal 27 Mei 1975 koalisi tersebut tidak dapat dipertahankan. Dalam perkembangannya, UDT mengubah namanya menjadi Movimento Anti-Comunista (MAC). MAC menjadi berbalik arah dan bekerja sama dengan Apodeti, Kota, Trabalista untuk melawan Fretelin.

Indonesia dan Portugal mengadakan kerjasama dekolonisasi di Timtim. Ketika berlangsung pembicaraan dekolonisasi tersebut, tanggal 26-28 Juni 1975 di Macao, terjadi pemboikotan[9] oleh Fretelin.[10] Timtim semakin memburuk karena belum dapat ditentukan masa depannya.

Fretelin menganggap partai lain adalah lawan yang harus dimatikan sehingga Fretelin sering menggunakan kekerasan. Akibat kekerasan tersebut banyak pengikut MAC dan Apodeti melarikan diri dan menyebrang ke Timor Barat (Indonesia). Pada tanggal 28 November 1975, Fretelin memproklamasikan berdirinya Republik Demokrasi Timor Timur di Dili dan mengangkat Xavier Do Amaral sebagai Presiden.[11] Aksi Fretelin dinyatakan sebagai keputusan sepihak, maka MAC, Apodeti, Kota, dan Trabalista pada tanggal 30 November 1975 juga memproklamasikan penggabungan Timor Timur ke dalam wilayah republik Indonesia di Balibo.[12]

Pertengahan Desember 1975 Timtim dapat dikuasai oleh pasukan gabungan pro integrasi. Gabungan partai pro integrasi membentuk Pemerintah Sementara Timor Timur (PSTT) dan dibentuk juga DPR sebagai wakil rakyat. Kepala eksekutif PSTT adalah Arnaldo Dos reis Araujo dan Xavier Lopez da Cruz sebagai wakilnya. [13]

Tanggal 30 Mei 1976, DPR yang disaksikan oleh PSTT mengadakan sidang khusus dengan acara tunggal integrasi Timtim dengan RI. Sidang tersebut menghasilkan keputusan antara lain: pertama, menyampaikan petisi integrasi kepada Pemerintah RI di Jakarta, menyerahkan kepada komisi khusus rumusan petisi integrasi, dan mempercayakan ketua sidang untuk menentukan delegasi.[14] Setelah disahkan DPR tanggal 15 Juli 1976, kemudian pada tanggal 17 Juli 1976 Presiden menandatangani Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1976 yang isinya menerima Timtim sebagai bagian dari kedaulatan RI dan menjadikannya sebagai propinsi ke-27[15] dan diteruskan dengan TAP MPR no. VI tahun 1978[16], walaupun PBB tidak pernah mengakui bahwa Timtim merupakan bagian dari RI.[17]

 

  1. B.     Pemerintahan RI

Pada masa pemerintahan Soekarno, Timtim lepas dari politik teritorialnya karena  wilayah RI hanya mencakup bekas jajahan Hindia Belanda. Namun, pada masa pemerintahan Soeharto terdapat kemungkinan bahwa Soeharto menentang munculnya suatu negara merdeka karena khawatir terhadap keamanan yang dapat timbul dari perubahan politik yang tak menentu di Timtim tersebut.[18] Laporan intel barat menyebutkan bahwa Soeharto dahulu ingin merebut Timtim karena di sana terdapat sumber minyak bumi.[19] Ladang minyak dan gas alam itu terdapat di Celah Timor. [20]

Gerakan Fretelin yang semakin radikal dan konflik yang berkepanjangan menyebabkan kelompok pro Integrasi menyatakan bergabung dengan RI untuk melawan Fretelin. Invasi militer RI dilakukan tanggal 7 Desember 1975 dengan alasan untuk memulihkan ketertiban di Timtim.[21] Sebanyak 10 ribu anggota pasukan RI didukung kapal laut, pesawat udara, dan helikopter menyerbu Timtim.[22]

 

  1. C.      Campur Tangan Asing

Tak lama setelah Ford[23] dan Kissinger[24] berkunjung ke Jakarta pada tahun 1975, Timtim pun berintegrasi dengan RI.[25] Jika dianalisis lebih lanjut, manuver Jakarta dan sejumlah komponen lokal Timtim ke arah integrasi bisa jadi hanya sebuah unsur konspirasi Australia[26] dan Amerika. Penjelasannya bertumpu pada logika perang dingin. Awal 1970-an, paman Sam dan sekutu-kutunya sudah menganggap penting ricuh politik di Portugal. Gelombang persaingan pro-kapitalis dan pro-komunis merembet ke daerah jajahan Portugal sampai ke Timtim. Blok Barat lalu mewaspadai Fretilin yang berhaluan komunis.[27]

Senada dengan hal tersebut dalam referensi yang lain disebutkan bahwa masuknya Timtim ke wilayah Indonesia pada tahun 1976 tidak lepas dari determinan konstelasi politik internasional di masa perang dingin. Kala itu masuknya Indonesia lewat operasi militer ke Timtim mendapatkan restu negara-negara Barat-liberalis yang tidak ingin melihat Timtim merdeka di bawah pimpinan Fretilin yang berhaluan kiri atau komunis.[28]

Kamis, 6 Desember 2001 pemerintah AS membuka arsip tentang persetujuan negara tersebut terhadap rencana masuknya Indonesia ke Timtim. Dalam dokumen itu diungkapkan bahwa Presiden Soeharto menjelaskan rencana invasi tersebut kepada Ford dan Kissinger di Jakarta beberapa jam sebelum penyerangan itu. Waktu serangan pun juga disebutkan yaitu setelah dua tokoh itu pulang ke negaranya.[29]

Akhirnya, dengan mengutip kalimat Asvi Warman Adam “Betapa sulitnya menulis kembali sejarah Timtim. Bagaimana kita memandang masa seperempat abad di Timtim: sebagai pendudukan, penjajahan, atau integrasi suatu wilayah dengan Indonesia?”[30]

 

Referensi

 

A. Kardiyat Wiharyanto. 2011. Sejarah Indonesia dari Proklamasi Sampai Pemilu 2009. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

 

Asvi Warman Adam. 2006. Soeharto Sisi Gelap Sejarah Indonesia. Yogyakarta: Ombak.

 

Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto 1993. Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka.

 

Rosihan Anwar. 2004. Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia. Jakarta: Kompas.

 

Soenarto HM. 2003. Pergulatan Ideologi dalam Kehidupan Berbangsa. Jakarta: Lembaga Putra Fajar.

 

Syamsul Hadi, Andi Widjajanto, dkk. 2007.  Disintegrasi Pasca Orde Baru. Jakarta: Cires FISIP UI.

 

Tono Suratman. 2002. Untuk Negaraku Sebuah Potret Perjuangan di Timor Timur. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.


[1] Ada juga yang menyebut Timor Leste, Timor Lorosae atau Bumi Lorosae.

[2] A. Kardiyat Wiharyanto. 2011. Sejarah Indonesia dari Proklamasi Sampai Pemilu 2009. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, hlm. 198.

[3] Ada yang menyebutnya Revolusi Anyelir yaitu Gerakan untuk memperbaiki keadaan seperti keterbelakangan Portugal, pertentangan politik yang berlarut-larut, ekonomi yang semakin merosot, peningkatan pengangguran, perang daerah jajahan yang terus berkobar.

[4] Ibid., hlm. 201.

[5] Syamsul Hadi, Andi Widjajanto, dkk. 2007.  Disintegrasi Pasca Orde Baru. Jakarta: Cires FISIP UI, hlm. 188.

[6] Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto 1993. Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka, hlm. 487.

[7] A. Kardiyat Wiharyanto. Op. Cit, hlm. 202.

[8] Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. Op. Cit, hlm. 488.

[9] Menolak atau penolakan terhadap dekolonisasi.

[10] A. Kardiyat Wiharyanto. Op. Cit, hlm. 203.

[11] A. Kardiyat Wiharyanto. Op. Cit., hlm. 204.

[12] Dikenal dengan Deklarasi Balibo.

[13] A. Kardiyat Wiharyanto. Op. Cit., hlm. 204.

[14] A. Kardiyat Wiharyanto. Op. Cit., hlm. 204-205.

[15] Syamsul Hadi, Andi Widjajanto, dkk. Op. Cit., hlm. 189.

[16] Soenarto HM. 2003. Pergulatan Ideologi dalam Kehidupan Berbangsa. Jakarta: Lembaga Putra Fajar, hlm. 94.

[17] Ibid.

[18] A. Kardiyat Wiharyanto. Op. Cit., hlm. 205-206.

[19] Rosihan Anwar. 2004. Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia. Jakarta: Kompas, hlm. 29.

[20] Ibid., hlm. 45.

[21] A. Kardiyat Wiharyanto. Op. Ci.t, hlm. 208.

[22] Asvi Warman Adam. 2006. Soeharto Sisi Gelap Sejarah Indonesia. Yogyakarta: Ombak, hlm. 91.

[23] Presiden Amerika Serikat.

[24] Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.

[25] Tono Suratman. 2002. Untuk Negaraku Sebuah Potret Perjuangan di Timor Timur. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, hlm. 12.

[26] Melalui Perdana Menteri Gough Whitlam untuk mengirimkan tentara.

[27] Ibid., hlm 13.

[28] Syamsul Hadi, Andi Widjajanto. Op. Cit., hlm. 193.

[29] Asvi Warman Adam. Op. Cit., hlm. 90-91.

[30] Asvi Warman Adam. Op. Cit., hlm. 87.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: