Pendidikan Yang Tak Mencerdaskan Moral

Oleh: Rani Yuanita

Sudah sering kita mendengar banyaknya kasus yang pernah terjadi dilakukan oleh para pelajar, seperti tertangkapnya pelajar yang mencuri di supermarket, pelajar yang terkena razia karena membolos sekolah, perilaku asusila oleh pelajar, dan yang terbiasa terjadi yaitu kebiasaan mencontek yang kata sebagian orang adalah budaya buruk. Saya pribadi miris melihat fakta-fakta tersebut. Yang menghebohkan lagi baru-baru ini di televisi disiarkan bahwa sekumpulan mahasiswa tawuran dengan mahasiswa lainnya, padahal mereka satu almamater hanya berbeda fakultas. Jika dalam lingkup kecil saja tidak tumbuh rasa persaudaraan apalagi dalam lingkup yang lebih besar. Seperti tertuang dalam dengungan sumpah pemuda yang belum lama kita peringati yaitu satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air, saya kira itu hanya angin lalu saja jika fakta yang terjadi seperti contoh tadi.
Pemuda adalah generasi generus bangsa, yang terbayang dalam benak kita adalah pelajar-pelajar dan juga mahasiswa yang mendapatkan pendidikan di sekolah, ataupun lembaga formal maupun nonformal lainnya. Secara umum pendidikan berarti transfer of knowledge dan transfer of value, jadi tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan saja tetapi juga ada makna di balik itu semua yang tidak kalah penting yaitu value. Nilai adalah sesuatu yang baik. Jadi nilai sebagai acuan penanda apakah yang kita lakukan itu baik atau buruk. Kembali mengenai pendidikan, nyatanya dewasa ini mayoritas lembaga, baik formal maupun nonformal memberikan pendidikan hanya sebatas transfer of knowledge. Terlebih para guru yang notabene seseorang yang seharusnya melakukan pendidikan tetapi faktanya hanya melakukan pengajaran, kita dapat mendikotomikan hal ini. Pengajar adalah seseorang yang mengajarkan yaitu dengan menyampaikan suatu ilmu pengetahuan saja. Berbeda dengan pendidik, seorang pendidik selain sebagai pengajar juga memberikan berbagai nilai yang dapat mendidik anak didiknya menjadi lebih baik. Faktanya mayoritas hanya mentransfer ilmu pengetahuan saja sedangkan value dianaktirikan.
Kita mengenal dalam proses pendidikan terdiri dari: input, proses, kemudian output. Input adalah siswa yang akan menerima masukan ilmu pengetahuan dan nilai. Siswa inilah yang akan berproses. Proses ini yang berperan menentukan suatu hasil yang disebut output. Output akan bagaimana dan seperti apa ditentukan pula dengan bagaimana dan seperti apa proses yang dilaksanakan. Dalam proses ada materi yang diajarkan, ada guru sebagai pendidik, ada metode pengajaran yang digunakan, serta alat evaluasi untuk mengukur ketercapaian kompetensi yang diharapkan. Jika tadi sudah disinggung mengenai guru yang berperan menyampaikan ilmu pengetahuan saja tetapi belum mentransfer nilai, yang kedua kita juga bisa melihat bagaimana metode pengajaran yang digunakan. Mayoritas guru di Indonesia, mengajar dengan metode ceramah kemudian mengerjakan soal. Metode ceramah memang bisa digunakan sebagai langkah awal memasukkan nilai, tetapi tidak terhenti disitu saja karena dengan mempraktekkannya tentu akan lebih membekas dalam diri peserta didik. Dari evaluasi kita mengenal rapor. Walaupun sekarang aspek afektif dan psikomotor juga tercantum, tetapi penentu juara kelas tetap mengacu pada aspek kognitif. Dominasi aspek kognitif dalam proses maupun evaluasi pembelajaran akan membuat peserta didik melakukan berbagai cara untuk memenuhi standar itu, mereka akan memperjuangkan dengan segala cara agar nilai ulangan, nilai ujian maupun nilai rapornya bagus. Budaya yang mengakar yaitu mencontek tidak bisa dihilangkan ketika tidak ada moralitas dalam proses pembelajaran.
Moralitas itu ada jikalau nilai sebagai pembeda yang baik dan buruk itu tertanam, paling tidak pernah diketahui dan dipahami. Salah satunya diberikan maupun dicontohkan oleh guru. Mencontek, membuang sampah sembarangan, mencoret-coret tembok, berkelahi, sampai tawuran dan lain-lain hanya bisa kita kendalikan dengan penanaman nilai moral. Pendidikan adalah kunci utama untuk memperbaiki masalah ini. Jadi Pendidikan harus diperbaiki. Bukan hanya pendidikan yang mencerdaskan aspek kognitif saja, tetapi kita sangat butuh pendidikan yang mencerdaskan moral agar kehancuran generasi tidak semakin parah untuk masa mendatang. Allahu ‘alam

4 Komentar »

  1. emg indonesia bobrok

  2. rheyzaamri Said:

    bener bgd rani,
    memang sat ini sulit kita temui pendidikan yang bisa mencerdaskan moral, .,
    karena para guru kebanyakan hanya mengutamakan kecerdasan kognitif semata. .,

  3. ian Said:

    memang di zaman sekarang banyak generasi – generasi kita yang moralnya kurang bungetz mungkin nie akibat pengaruh modernisasi kale ya..dan kurangnya kontrol sosial baik di sekolah maupin di masyarakat…

  4. zarzigur Said:

    Terlalu… (roma irama)


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: