ANALISIS KULTUR YANG BERBEDA UPACARA KEMATIAN RAMBU SOLO’ (TANA TORAJA) DAN NGABEN (BALI)

Oleh : Rani Yuanita

Ritual Rambu Solo’ (Tana Toraja)

  1. Jenazah dipindahkan dari rumah duka menuju tongkonan pertama (tongkonan tammuon), yaitu tongkonan dimana ia berasal.
  2. Di sana dilakukan penyembelihan 1 ekor kerbau sebagai kurban atau dalam bahasa Torajanya Ma’tinggoro Tedong, yaitu cara penyembelihan khas orang Toraja, menebas kerbau dengan parang dengan satu kali tebasan saja. Kerbau yang akan disembelih ditambatkan pada sebuah batu yang diberi nama Simbuang Batu.
  3. 3. Setelah itu, kerbau tadi dipotong-potong dan dagingnya dibagi-bagikan kepada mereka yang hadir. (sebagai wujud sumbangsih dan bakti kepada masyarakat sekitar/solidaritas sosial).
  4. Jenazah berada di tongkonan pertama (tongkonan tammuon) hanya sehari, lalu keesokan harinya jenazah akan dipindahkan lagi ke tongkonan yang berada agak ke atas lagi, yaitu tongkonan barebatu, dan di sini pun prosesinya sama dengan di tongkonan yang pertama, yaitu penyembelihan kerbau dan dagingnya akan dibagi-bagikan kepada orang-orang yang berada di sekitar tongkonan tersebut.
  5. Seluruh prosesi acara Rambu Solo’ selalu dilakukan pada siang hari. Jenazah diusung menggunakan duba-duba (keranda khas Toraja). Di depan duba-duba terdapat lamba-lamba (kain merah yang panjang, biasanya terletak di depan keranda jenazah, dan dalam prosesi pengarakan, kain tersebut ditarik oleh para wanita dalam keluarga itu).
  6. Prosesi pengarakan jenazah dari tongkonan barebatu menuju rante (lapangan tempat acara berlangsung) dilakukan setelah kebaktian dan makan siang. Barulah keluarga dekat arwah ikut mengusung keranda tersebut. Para laki-laki yang mengangkat keranda tersebut, sedangkan wanita yang menarik lamba-lamba. Dalam pengarakan terdapat urut-urutan yang harus dilaksanakan, pada urutan pertama kita akan lihat orang yang membawa gong yang sangat besar, lalu diikuti dengan tompi saratu (atau yang biasa kita kenal dengan umbul-umbul), lalu tepat di belakang tompi saratu ada barisan tedong (kerbau) diikuti dengan lamba-lamba dan yang terakhir barulah duba-duba.
  7. Jenazah tersebut akan disemayamkan di rante (lapangan khusus tempat prosesi berlangsung), di sana sudah berdiri lantang (rumah sementara yang terbuat dari bambu dan kayu) yang sudah diberi nomor. Lantang itu sendiri berfungsi sebagai tempat tinggal para sanak keluarga yang datang nanti. Karena selama acara berlangsung mereka semua tidak kembali ke rumah masing-masing tetapi menginap di lantang yang telah disediakan oleh keluarga yang sedang berduka.
  8. Iring-iringan jenazah akhirnya sampai di rante yang nantinya akan diletakkan di lakkien (menara tempat disemayamkannya jenazah selama prosesi berlangsung). Menara itu merupakan bangunan yang paling tinggi di antara lantang-lantang yang ada di rante. Lakkien sendiri terbuat dari pohon bambu dengan bentuk rumah adat Toraja. Jenazah dibaringkan di atas lakkien sebelum nantinya akan dikubur. Di rante sudah siap dua ekor kerbau yang akan ditebas.
  9. Setelah jenazah sampai di lakkien, acara selanjutnya adalah penerimaan tamu, yaitu sanak saudara yang datang dari penjuru tanah air.

10.  Pada sore hari setelah prosesi penerimaan tamu selesai, dilanjutkan dengan hiburan bagi para keluarga dan para tamu undangan yang datang, dengan mempertontonkan ma’pasilaga tedong (adu kerbau). Bukan main ramainya para penonton, karena selama upacara Rambu Solo’, adu hewan pemamah biak ini merupakan acara yang ditunggu-tunggu.

11.  Selama beberapa hari ke depan penerimaan tamu dan adu kerbau merupakan agenda acara berikutnya, penerimaan tamu terus dilaksanakan sampai semua tamu-tamunya berada di tempat yang telah disediakan yaitu lantang yang berada di rante. Sore harinya selalu diadakan adu kerbau, hal ini merupakan hiburan yang digemari oleh orang-orang Tana Toraja hingga sampai pada hari penguburan. Baik itu yang dikuburkan di tebing maupun yang di patane’ (kuburan dari kayu berbentuk rumah adat).

Ritual Ngaben (Bali)

  1. Mayat akan dibersihkan atau yang biasa disebut “Nyiramin” oleh masyarakat dan keluarga, “Nyiramin” ini dipimpin oleh orang yang dianggap paling tua di dalam masyarakat.
  2. 2. Setelah itu mayat akan dipakaikan pakaian adat Bali. (dianggap dan diperlakukan seperti masih hidup)
  3. 3. Sebelum acara puncak dilaksanakan, seluruh keluarga akan memberikan penghormatan terakhir dan memberikan doa semoga arwah yang diupacarai memperoleh tempat yang baik. (Wujud hormat keluarga terhadap leluhurnya)
  4. Setelah semuanya siap, maka mayat akan ditempatkan di “Bade” untuk diusung beramai-ramai ke kuburan tempat upacara Ngaben, diiringi dengan “gamelan”, “kidung suci”, dan diikuti seluruh keluarga dan masyarakat, (sebagai sarana silaturahmi warga) di depan “Bade” terdapat kain putih yang panjang yang bermakna sebagai pembuka jalan sang arwah menuju tempat asalnya. Di setiap pertigaan atau perempatan maka “Bade” akan diputar sebanyak 3 kali.
  5. 5. Sesampainya di kuburan, upacara Ngaben dilaksanakan dengan meletakkan mayat di “Lembu” yang telah disiapkan diawali dengan upacara-upacara lainnya dan doa mantra dari Ida Pedanda, kemudian “Lembu” dibakar sampai menjadi Abu. Abu ini kemudian dibuang ke Laut atau sungai yang dianggap suci. (perjalanan roh ke tempat asal)
  6. 6. Setelah upacara ini, keluarga dapat tenang mendoakan leluhur dari tempat suci dan pura masing-masing. (Inilah yang menyebabkan ikatan keluarga di Bali sangat kuat, karena mereka selalu ingat dan menghormati lelulur dan juga orang tuanya. Terdapat kepercayaan bahwa roh leluhur yang mengalami reinkarnasi akan kembali dalam lingkaran keluarga lagi, jadi biasanya seorang cucu merupakan reinkarnasi dari orang tuanya)

ANALISIS

PERSAMAAN

  • Ritual upacara kematian dan penguburan jenazah. (untuk mengembalikan roh orang yang meninggal ke tempat asalnya)
  • Pelaksanakannya menghabiskan waktu berhari-hari, sesuai tingkatannya.

(Terbagi dalam beberapa tingkatan, dari yang rendah [untuk masyarakat biasa/miskin] sampai tingkatan tinggi [kaya/bangsawan], semakin lama menunjukkan semakin tinggi derajat almarhum dan keluarganya ).

  • Tempat jenazah (Rambu Solo’= Duba-duba, Ngaben=Bade) dihias sebaik mungkin/dipersiapkan secara khusus dan satu kali pakai. Tidak bisa untuk jenasah berikutnya. (sebagai wujud penghormatan terhadap jenazah)
  • Menggunakan hewan (selain sebagai sarana dalam prosesi/ritual, penggunaan hewan ini juga sebagai sarana solidaritas sosial, silaturahmi dan hiburan).
  • Menghiasi jenazah dengan pakaiaan adat (diperlakukan seperti orang yang masih hidup)
  • Diurus dan dibiayai keluarga jenazah (sebagai wujud rasa hormat anak terhadap orang tuanya/leluhurnya)
  • Dilakukan dengan arak-arakan diikuti warga setempat (sebagai ajang bersilaturahmi warga)

PERBEDAAN

Perihal Rambu Solo’ Ngaben
Cara Dikubur/diletakkan di tebing atu tempat yang tinggi (semakin tinggi jenasah tersebut diletakkan, maka semakin cepat pula rohnya sampai ke nirwana) Dibakar kemudian abu dibuang ke laut yang dianggap suci (perjalanan menuju tempat asalnya)
Hewan Kerbau atau babi Lembu
Fungsi hewan Diadu dan dipotong kemudian dibagikan kepada masyarakat yang datang  (sumbangsih dan bakti sosial kepada masyarakat sekitar). Untuk meletakkan tempat jenazah, kemudian ikut dibakar
Jika belum bisa langsung di kubur (rambu solo’) atau belum bisa di bakar (ngaben)  karena suatu hal (misalnya belum mempunyai biaya, meninggal karena tidak wajar,dll). Disimpan dulu di rumah adat Toraja  (tongkonan), (dianggap sebagai orang sakit, jadi diperlakukan seperti masih hidup) Dikubur dulu di tanah beberapa waktu, jika sudah dapat dilaksanakan upacara pembakaran maka yang dibakar tulangnya.
Suasana Sedih dan semarak (pada waktu acara hiburan/adu kerbau) Semarak/tidak ada isak tangis (tidak boleh menangisi orang yang telah meninggal karena itu dapat menghambat perjalanan sang arwah menuju tempatnya,

arwahnya akan menjadi arwah penasaran akibat ketidak-ikhlasan kita)

Reinkarnasi Tidak disebutkan Percaya (roh leluhur yang mengalami reinkarnasi akan kembali dalam lingkaran keluarga lagi, jadi biasanya seorang cucu merupakan reinkarnasi dari orang tuanya.)
Biaya/mahal tidaknya Mahal karena persyaratan menyediakan berpuluh-puluh kerbau, jika belum mampu ditunda sampai mampu, jadi harus ditanggung keluarga sendiri. (wujud hormat keluarga kepada orangtua/leluhurnya) Sebenarnya mahal, tetapi relatif bisa menjadi sedikit murah karena bisa dengan  upacara massal. Selain itu juga ada bantuan dari pihak Rukun Warga.

(semangat kekeluargaan dan kebersamaan warga)

Iringan / pertunjukan Adu kerbau Gamelan dan kidung suci

KETERANGAN

Yang tercetak biasa = Eksplisit

Yang tercetak dalam kurung, tebal, miring = Implisit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: