Hubungan Gejala Jiwa, Kemampuan Belajar, dan Kemungkinan Tidak Naik Kelas

Oleh : Rani Yuanita

Manusia adalah makhluk sosial, dimana manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Di dalam kehidupan sosial tersebut manusia mempelajari seluk beluk kehidupan. Dalam hidupnya manusia tidak lepas dari belajar. Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pandangan umum di Indonesia ini, belajar diidentikan sebagai pendidikan di sekolah yang berkisar antara umur 6-18 tahun atau bahkan jika melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi tentu lebih banyak jangka usianya. Tetapi kita akan lebih membahas tentang pendidikan di sekolah. Terutama tingkat dasar dan menengah yang dalam kebijakan pemerintah inilah yang disebut wajib belajar 9 tahun.

Setiap orang mempunyai sisi psikologis dimana sisi ini berdampak pada hal-hal tindakannya. Atau bisa disebut gejala jiwa.  Dalam pendidikan pun gejala jiwa manusia yang mendasar banyak muncul. Gejala jiwa tersebut akan mempengaruhi berbagai perilaku  manusia, baik perilaku pendidik maupun perilaku peserta didik atau siswa. Dalam tulisan in akan dibahas bagaimana gejala jiwa tersebut mempengaruhi kemampuan belajar siswa.

Gejala jiwa yang ada pada diri manusia sangat mempengaruhi perilakunya. Tidak terlepas dalam dunia pendidikan yaitu pada pendidik maupun peserta didik (dalam tulisan ini hanya membahas peserta didik). Gejala jiwa misalnya: sensasi, persepsi, memori, berpikir, intelegensi, emosi dan motivasi mempengaruhi pola perilaku belajar siswa. Hal tersebut nantinya bisa mempengaruhi kualitas hasil akhir dalam belajar.

Adanya hubungan antara kemampuan belajar dengan kemungkinan tidak naik kelas. Pertama kita akan analisis tentang kemampuan belajar seorang siswa. Menurut hemat saya, kemampuan belajar adalah bagaimana seorang anak bisa memahami, mengikuti dan melaksanakan apa yang ia peroleh dalam pendidikan. Hal ini menyangkut bisa atau tidaknya anak tersebut mempelajari sesuatu. Faktor gejala jiwa tersebut bisa mempengaruhi kualitas kemampuan belajar seorang anak. Misalnya:

  • Pengindraan dan Persepsi

Kemampuan otak untuk menerjemahkan stimulus seorang anak satu sama lain berbeda-beda, tidak semua stimulus dapat diindra. Begitu pelajaran yang disampaikan guru tidak semua bisa ditangkap oleh siswa, persepsi pun akan berlainan. Hal ini juga mempengaruhi kemampuan belajar.

  • Memori

Setiap hari kita memilki banyak aktivitas, berbagai informasi kita peroleh setiap harinya. Untuk memunculkan kembali informasi-informasi tersebut terkait dengan kerja memori atau otak. Dalam kenyataan, kemampuan otak manusia berbeda-beda. Siswapun seperti itu. Kemampuan otak untuk memasukkan, menyimpan,  memunculkan kembali informasi yang didapatkan (pelajaran misalnya) mempengaruhi kemampuan belajar si anak tersebut.

  • Berpikir

Berpikir biasanya terjadi pada orang yang mengalami masalah atau dihadapkan pada masalah. Masalah di sini bisa kita analogikan dengan pelajaran yang disampaikan oleh pendidik. Kemampuan berpikir siswa inilah yang juga mempengaruhi kemampuan belajar.

  • Intelegensi

Dari berbagai definisi intelegensi yang dikemukakan oleh ahli-ahli yang berbeda-beda, para ahli sepakat memandang intelegensi sebagai kemampuan umum seseorang. Yaitu dalam menyesuaikan diri, belajar, atau berpikir abstrak. Intelegensi juga mempengeruhi kemampuan belajar seseorang.

  • Emosi dan Motivasi

Sebagai manusia, emosi memberi warna dalam perilaku kita. Anak didik pun

demikian. Emosi mempengaruhi kemampuan belajarnya. Emosi yang positif dapat membantu belajar siswa tetapi emosi yang buruk dapat menghambat. Motivasi belajar yang tinggi tercermin dari ketekunan yang tidak mudah patah untuk mencapai sukses. Begitu pula sukses belajar. Motivasi ini diperlukan agar menggiatkan aktivitas belajar siswa. Jadi, emosi dan motivasi mempengaruhi kemampuan belajar siswa.

Dari gejala-gejala jiwa yang mempengaruhi kemampuan belajar seseorang anak tersebut, yang menjadi masalah adalah ketika gejala jiwa yang buruk membuat kemampuan belajar siswa tidak maksimal. Bahwa kemampuan belajar anak mempengaruhi  kualitas hasil belajar yang dalam hal ini terkait dengan kemungkinan tidak naik kelas. Hasil belajar itulah yang kemudian menyebabkan anak tersebut naik atau tidak naik. Saya menyoroti bahwa kemampuan belajar seorang anak dipengaruhi gejala-gejala jiwa pada anak tersebut. Jika gelaja jiwa tersebut positif, maka akan cenderung seorang anak mempunyai kemampuan belajar yang baik (maksimal). Tetapi jika gejala jiwa itu negatif maka kemampuan anak akan terpengaruhi sehingga menjadi kurang baik. Kualitas gejala jiwa juga mempengaruhi, misalnya jika intelegensinya bagus maka kemampuan belajar juga akan bagus. Kemudian berdampak pada hasil yang dicapai oleh anak didik. Dengan demikian kemampuan belajar yang tidak maksimal tidak menutup kemungkinan siswa untuk tidak naik kelas.

Ada beberapa tips untuk mengatasi masalah tersebut, diantaranya:

  • Gejala jiwa juga dipengaruhi oleh keadaan fisik, maka usahakanlah fisik tetap sehat dan mendukung kemampuan belajar.
  • Ciptakan atau pilihlah suasana yang kondusif untuk mendukung kemampuan belajar.
  • Latih gejala jiwa agar lebih peka dan meningkat kualitasnya  sehingga lebih bermanfaat.
  • Usahakanlah mengatur gejala jiwa yang negatif agar tidak merugikan prestasi belajar.

Gejala jiwa  juga mempengaruhi prestasi belajar siswa sehingga sebagai pelajar harus bisa memanfaatkan gejala jiwa agar hasil belajar menjadi baik.

9 Komentar »

  1. missdinna Said:

    kta memang perlu mengetahui hal-hal apa yang dapat mempengaruhi terhadap perkembangan belajar anak sebelum kita men-judge anak tersebut bodoh, pintar atau sedang. pendekatan individual penting untuk mengetahui apa yang menjadi hambatan maereka dalam belajar.

  2. wiwi Said:

    Setuju…!!

  3. Ira Susanti Said:

    kita memang harus bisa memahami karakter anak…

    • raniyuanita Said:

      dan mendidiknya dengan baik jika kita tahu ilmunya.. semangat belajar🙂

  4. rubiyanto19 Said:

    muantappp ne, membantu tugas kuliah saya ….
    makasih ….

  5. sejarah Said:

    ijin ambil buat psikologi pendidikan… hehe…


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: