JADI GURU BUKAN UNTUK DAGANG BUKU

Oleh: Rani Yuanita

Menempuh studi atau bersekolah tentu tidak terlepas dari kebutuhan akan buku. Sampai ada peribahasa buku adalah jendela dunia. Dari buku kita mendapatkan ilmu pengetahuan. Dewasa ini seringkali kita mendengar banyaknya buku penunjang yang disebut buku paket diwajibkan oleh guru kepada siswa untuk membelinya. Satu buah buku bisa berharga rata-rata Rp 20.000 -Rp 30.000. Padahal mata pelajaran bisa lebih dari tujuh sampai limabelas. Silahkan hitung sendiri ditambah LKS (Lembar Kerja Siswa) yang rata-ratanya satu LKS Rp 4.000. Tentunya memberatkan untuk keluarga kurang mampu.

Pernyataan saya di atas bukan dimaksud melarang untuk membeli buku, akan tetapi pertanyaannya buku tersebut apakah terjamin mutunya? Apakah tidak ada maksud lain dibalik pembelian buku dan LKS itu? Menilik dari kasus adanya kongkalikong antara guru dengan penerbit yaitu perjanjian jika buku dibeli oleh siswanya maka guru tersebut mendapat komisi. Jadi bisa disebut guru dagang buku. Tentunya kasus ini tidak dilakukan oleh semua guru. Hanya oknum-oknum tertentu saja yang mungkin lupa akan hakekat guru bahwa guru itu pendidik bukan untuk mencari laba.

Adanya kasus buku jadi dagangan oknum guru atau dengan kata lain ada bisnis buku antara guru dan penerbit ini, tentunya tidak sesuai dengan kode etik guru. Jika mengacu pada kode etik guru hal tersebut melanggar tiga poin dalam kode etik guru, yaitu: Kode etik yang pertama “Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan Pemerintah dalam bidang Pendidikan”. Kasus bisnis buku ini melanggar ketentuan hukum positif, yaitu Peraturan Mendiknas Nomor 11 Tahun 2005 Pasal 9 (bahwa guru, tenaga kependidikan, satuan pendidikan, atau komite sekolah tidak dibenarkan melakukan penjualan buku kepada peserta didik). Selain itu, meski sudah ditetapkan bahwa masa pakai buku teks pelajaran yang digunakan dan dipilih oleh satuan pendidikan paling sedikit untuk lima tahun (Pasal 5 dan Pasal 7), tetapi dengan adanya bisnis itu pada kenyataannya setiap tahun buku diganti, siswa-siswa tidak bisa menggunakan atau meminjam buku kakak kelas yang sudah tidak dipakai, karena oknum guru tersebut mewajibkan membeli buku baru, padahal biasanya esensi buku tetap, yang berubah hanya beberapa susunan dan covernya. Kode etik yang kedua “Guru memiliki kejujuran Profesional dalam menerapkan Kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing–masing”. Jika hanya peluang bisnis yang menjadi tujuan, seringkali buku dari penerbit yang bekerjasama dengan oknum guru kurang memperhatikan kurikulum, sehingga bisa diistilahkan “banting stir” mengikuti apa yang ada dibuku tersebut, hal itu mnyebabkan guru menjadi kurang kreatif. Dapat juga menjadi mubadzir jika isi tidak sesuai dengan kurikulum. Kode etik yang ketiga “Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua murid sebaik–baiknya bagi kepentingan anak didik”. Jelas kenyataannya banyak orang tua dari siswa yang kurang mampu mengeluhkan hal ini, karena banyaknya anggaran buku yang harus dibayarkan tiap tahun atau semester. Padahal jika buku lama masih bisa dipakai untuk tahun berikutnya ada kemungkinan untuk meminjam kakak kelas, tetapi karena bisnis tersebut selalu mengharuskan buku baru, menurut saya hal ini menjadi faktor keretakan hubungan dengan wali murid.

Itulah hal-hal yang secara konkrit melanggar kode etik guru. Harapannya tidak ada lagi oknum-oknum guru yang memanfaatkan muridnya hanya untuk material saja, karena sebagai seorang guru seharusnya dengan tulus mendidik tanpa dibarengi dengan hal-hal yang menyimpang atau melanggar kode etik guru. Allahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: