Egoisme Berkendara

by: Rani Yuanita

Deru suara kendaraan bermotor sudah sangat akrab ditelinga kita. Apalagi bagi masyarakat yang bertempat tinggal di daerah yang berdekatan dengan jalan raya. Terlebih di kota, bahkan zaman sekarang di desa pun motor sudah berlalu lalang juga. Inilah perkembangan zaman. Dahulu kendaraan masih sederhana dari kuda, grobak, andong, becak, sepeda sekarang tentu lebih canggih sehingga memudahkan kita untuk mencapai tempat yang ingin kita tuju. Sekarang manusia modern sering dianggap seseorang yang bermobilitas tinggi. Satu jam ada di suatu tempat, satu jam kemudian sudah bisa berada di tempat yang lain. Tentu tekhnologi ini sangat bermanfaat terlepas dari semua dampak buruk yang ditimbulkan pula.

Untuk mengatasi kecelakaan lalu lintas, menjamin ketertiban berkendaraan, pemerintah sebagai orang-orang yang mempunyai kewenangan tentu sudah membuat berbagai kebijakan dalam hal ini adalah peraturan lalu lintas. Diciptakan pula rambu-rambu lalu lintas. Jalan yang sudah diaspal akan sangat membuat pengendara begitu nyaman. Sebegitu nyamannya seolah-olah jalan raya yang notabene adalah jalan umum dibuat dengan “iuran” pajak dari masyarakat, dianggap sebagai jalan nenek moyangnya sendiri. Dari kebut-kebutan, tidak memakai helm ketika naik motor, takut kalau ada polisi tetapi ketika berada di kawasan yang tidak terdapat polisi seakan-akan mereka bebas berlalu lalang tanpa menghiraukan rambu-rambu. Ngebut adalah hal yang paling sering terjadi.  Mereka kurang memperhatikan pejalan kaki dan penyebrang jalan. Kesan Tidak mau kalah secara tersirat telihat. Belum lampu hijau sudah jalan duluan, kemudian mati matian ngebut di lampu kuning. Jelas tidak mematuhi rambu lalu lintas. Saya menyebutnya dengan egoisme berkendara.

Fenomena yang terjadi ini tentunya sangat merugikan bagi masyarakat lain. Padahal kasus kecelakaan sudah banyak terjadi, tetapi oknum-oknum egoisme berkendara masih sangat banyak. Ketika orang lain mencoba hati-hati akan tetapi oknum-oknum tersebut dapat menjadi faktor mencelakakan orang lain. Mau jadi apa bangsa ini jika perilaku di jalan umum sudah main menang sendiri. Padahal bukan jalan pribadi. Sungguh miris melihat egoisme ini. Semoga bukan Anda dan bukan pula saya. Jika ada orang-orang di sekitar kita yang berperilaku demikian maka sudah sepantasnya kita menasehati. Mari bersama-sama kita berbenah, karena manusia itu hidup bukan untuk mementingkan dirinya sendiri. Allahu ‘Alam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: