Masuk dan Berkembangnya Pengaruh Islam di Indonesia

oleh: Rani Yuanita

Pengantar

Selain agama Hindu dan Budha, di Nusantara Indonesia juga terdapat agama Islam yang pengaruhnya juga berasal dari luar Nusantara. Pengembangan dan penyiaran agama Islam termasuk paling dinamis dan cepat dibandingkan dengan agama-agama lainnya. Hal tersebut diukur dengan kurun waktu yang sebanding dengan sikon, alat komunikasi dan transportasi yang sepadan. Catatan sejarah telah membuktikan bahwa Islam dalam waktu 23 tahun dari kelahirannya sudah menjadi tuan di negerinya sendiri, yaitu jazirah Arab. [1]

Berbagai versi tentang waktu masuknya Islam ke Indonesia yang perlu penyamaan konsep dari berbagai ahli membuat polemik tersendiri. Namun demikian, jika orang Islam yang pertama di Indonesia itu ditetapkan pada abad 1 H, maka mereka itu dalam pengamalan agamanya beraliran al salaf al saleh. Sikap kepribadian para penyiar Islam yang pertama di Indonesia diilustrasikan dengan tiga hal :

  1. Mereka adalah angkatan umat Islam ke-1 H. Nabi Muhammad pernah bersabda “sebaik-baik abad adalah abad saya, kemudian abad berikutnya”.
  2. Mereka pada umumnya adalah para pedagang dan perantau.
  3. Mereka datang sebagai golongan minoritas yang tidak bersenjata.

Faktor tersebut menunjang keberhasilan dan kecepatan pengembangan Islam periode pertama. [2]

A.    Faktor-Faktor yang Mempermudah Proses Islamisasi di Indonesia

Telah disebutkan pada bagian pengantar bahwa generasi pertama Rasulullah memiliki keunggulan jika dibanding dengan generasi-generasi setelahnya. Begitu pula ketika sampai di Indonesia, dalam hal lain disebutkan beberapa faktor yang mempermudah Islam diterima oleh masyarakat Indonesia.

Agama ini mudah mendapat tempat karena beberapa keuntungan yang ditawarkan. Diantaranya adalah bahwa Islam hanya membedakan orang dalam dua golongan, yakni orang yang percaya kepada agama dan yang tidak. Berbeda dengan agama Hindu yang membagi-bagi orang dalam berbagai golongan atau kasta. [3]Agama Islam merakyat ajarannya, tidak mengenal adanya stratifikasi sosial yang didasarkan kasta. Diterima oleh rakyat di Nusantara Indonesia sebagai liberating forces-kekuatan pembebas. Melepaskan manusia dari pengklasifikasian abadi berdasarkan kasta yang tak dapat diubah karena dasar pembagian kasta berdasarkan hereditas-keturunan darah. [4]

Islam memberikan semangat kehidupan dengan penciptaan ekonomi terbuka melalui pasar. Sistem ini melahirkan sistem sosial terbuka-opened society. Artinya setiap individu terbuka untuk memperoleh kesempatan mengubah jenjang sosialnya, dengan social climbing-pendakian sosial. Melalui prestasi kerjanya-achieved status. Masyarakat Islam sebenarnya hampir tidak mendasarkan pada ascribed status-kedudukan sosial yang diperolehnya atas dasar keturunan-hereditas kecuali kedudukan Sultan atau Raja. [5]Islam masuk ke nusantara Indonesia melalui gerbang pasar yang disebarkan para wirausahawan yang merangkap sebagai juru dakwah. Menurut Prof. Dr. D. H. Burger dan Prof . Dr. Mr. Prajudi, dalam Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, djilid Pertama, menyatakan Islam di Indonesia dikembangkan dengan jalan damai dan tidak disertai dengan invasi militer.[6]

B.     Teori / Pendapat Kedatangan Islam Mengenai Waktu

Terdapat perbedaan pengertian mengenai kedatangan Islam ke Indonesia dalam hal waktu. Hal ini didasarkan pada perbedaan titik tumpu masing-masing sejarawan. Oleh karena itu, pemakalah mencoba menghadirkan berbagai teori atau pendapat disertai dengan penjelasannya.

Berdasarkan sumber-sumber yang disertai dengan berbagai bukti, maka ada tiga pendapat yang menyimpulkan Islam masuk ke Indonesia, yaitu:

  1. Abad VII M (1 H) alasannya pada waktu itu kerajaaan Sriwijaya mengembangkan kekuasaannya pada sekitar abad ketujuh dan kedelapan, dan juga di selat malaka sudah mulai lalu lalang pedagang muslim dalam pelayarannya ke negeri-negeri di Asia Tenggara dan Asia Timur (termasuk Indonesia).
  2. Pendapat kedua mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad IX hingga XI M, alasannya karena pada waktu itu sudah terbentuk komunitas masyarakat muslim.
  3. Pendapat yang ketiga mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke XIII hingga XIV M. [7] Hal ini berdasarkan asumsi bahwa Islam masuk di Indonesia itu ditandai dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam, maka kerajaan Islam baru berdiri pada abad XIII yaitu dengan berdirinya Kerajaan Samudra Pasai. [8] Pendapat ini tergolong lemah jika mengacu pada realitas penyebaran Islam yang tidak hanya berasal dari satu jalur yaitu jalur politik/kerajaan, akan tetapi penyebaran Islam yang juga dimulai dari lapisan bawah melalui perdagangan dan perkawinan. Lebih lanjut, pendapat kedatangan Islam terkait waktu dapat pula dilihat pada pembahasan kedatangan Islam mengenai asal yang termaktub dalam Teori Gujarat, Teori Makkah, dan Teori Maritim.

C.    Teori / Pendapat Kedatangan Islam Mengenai Asal

1. Teori Gujarat

Teori ini mengikuti teori Prof. Dr. Snouck Hurgronje maka diteorikan Islam masuk dari Gujarat. Menurutnya, Islam tidak mungkin masuk ke nusantara Indonesia langsung dari Arabia tanpa melalui ajaran tasawuf yang berkembang di India. Dijelaskan pula bahwa daerah India tersebut adalah Gujarat. Daerah pertama yang dimasuki adalah Kesultanan Samodra Pasai, pada abad ke-13.  [9]

2. Teori Makkah

Prof. Dr. Buya Hamka dalam Seminar Masuknya Agama Islam ke Ind.  onesia di Meda (1963) lebih menggunaka fakta yang diangkat dari Berita Cina Dinasti Tang. Adapun waktu masuknya agama Islam ke Nusantara Indonesia terjadi pada abad ke-7 M. Dalam berita dinasti Tang tersebut menuturkan ditemuinya daerah hunian wirausahawan Arab Islam di Pantai Barat Sumatera maka disimpulkan Islam masuk dari daerah asalnya Arab. Dibawa oleh wiraniagawan Arab. [10]

3.Teori Persia

Prof. Dr. Abubakar Atjeh mengikuti pandangan Dr. Hoesein Djajadiningrat, Islam masuk dari persia dan bermadzhab Syi’ah. Pendapatnya didasarkan pada sistem baca atau sistem mengeja membaca huruf Al Qur’an, terutama di Jawa Barat. Teori ini dinilai lemah karena tidak semua pengguna sistem baca huruf Al Qur’an tersebut di Persia penganut madzab Syi’ah. [11]

4. Teori Cina

Prof. Dr. Slamet Muljana, 1968, dalam Runtuhnja Keradjaan Hindu Djawa dan Timbulnja Negara-Negara Islam di Nusantara, tidak hanya berpendapat Soeltan Demak adalah orang peranakan Cina. Namun juga menyimpulkan bahwa para Wali Sanga adalah orang peranakan Cina. Pendapat ini bertolak dari Kronik Klenteng Sam Po Kong. Misalnya Soeltan Demak Panembahan Fatah dalam Kronik Klenteng Sam Po Kong bernama Panembahan Jin Bun nama Cina-nya. Soenan Ampel dengan nama Cina, Bong Swi Hoo, dan lain-lain. Sebenarnya menurut budaya Cina dalam penulisan sejarah nama tempat yang bukan negeri Cina, dan nama orang yang bukan bangsa Cina, juga dicinakan penulisannya. Besar kemungkinan seluruh nama-nama raja Madjapahit dan nama keradjaan Hindoe Madjapahit pun seperti halnya kerajaan lainnya dicinakan pula dalam Kronik Klenteng Sam Po Kong Semarang, ditafsirkan oleh Prof. Dr. Slamet Muljana sebagai orang Cina.[12]

5. Teori Maritim

Menurut N.A Baloch sejarawan Pakistan, Masuk dan Berkembangnya agama Islam di Nusantara Indonesia, akibat umat Islam memiliki navigator atau mualim dan wirausahawan Muslim yang dinamik dalam penguasaan maritim dan pasar. Melalui aktivitas ini, ajaran Islam mulai dikenalkan di sepanjang jalan laut niaga di pantai-pantai tempat persinggahannya pada masa abad ke 1 H atau abad ke-7 Masehi. Oleh karena itu, langkah awal sejarahnya, ajaran Islam dikenalkan di pantai-pantai Nusantara Indonesia hingga di Cina Utara oleh para wirausahawan Arab. Proses waktu yang dilalui dalam dakwah pengenalan ajaran Islam ini, berlangsung selama lima abad, dari abad ke 1-5 H/7 -12 M. [13]

Langkah berikutnya, N.A. Baloch menjelaskan mulai abad ke-6 H/13 M terjadi pengembangan Islam hingga ke pedalaman. Pada periode ini pengembangan agama Islam ke pedalaman dilakukan oleh para wirausahawan pribumi. Selain itu, dimulai dari Aceh pada abad ke-9 M, kemudian diikuti di wilayah lainnya di Nusantara, kekuasaan politik Islam atau kesultanan mulai tumbuh. [14]

D.    Teori/Pendapat Kedatangan Islam Mengenai Pembawa

Para sejarawan menetapkan bahwa pembawa Islam ke Indonesia ada dua golongan, yaitu saudagar-saudagar dari Gujarat dan Saudagar-saudagar Arab.

  1. Orang-orang Gujarat, terbukti dengan : Perdagangan (hubungan dagang), ukir-ukiran Arab dalam kuburan Islam di Indonesia dengan motif Gujarat, adanya gelar Syah, adanya persamaan adat antara India dengan Indonesia, adanya sisa-sisa madzhab Syi’ah di Indonesia, seperti Wihdatul Wujud.
  2. Para Saudagar Arab dengan alasan : sudah adanya perdagangan pantai antara Arab dan Indonesia, melalui lautan sebagai terminal menuju Cina, Francis Day dalam bukunya The Lord of Pieverela, menyebutkanbahwa orang-orang Arab sudah lama menetap di Malabar India, yaitu orang Oman dan Hadramaut, adanya berita al-Mas’udi. Ia mengatakan bahwa pada tahun 675 M terdapat lebih kurang 10.000 orang yang berasal dari Oman, Siraz, Basrah dan Baghdad yang berasal di Malabar (Nurujud Dzannab), telah ada kelompok orang Arab di Sumatera pada Tahun 675 M sebagai utusan dari Arab untuk kunjungan ke Kalingga. [15]

Pendapat lain menyebutkan bahwa orang Islam yang pertama datang dan berdakwah Islam di Indonesia, antara lain:

  1. Yang datang pertama kali adalah mubaligh dari Persi (Iran), pada pertengahan abad 12 M. Alasannya karena kerajaan Islam pertama di Indonesia bernama Pase (Pasai) berasal dari Persi. Ditambah dengan kenyataan bahwa orang Islam Indonesia sangat hormat kepada keturunan sayyid atau habib yaitu keturunan Hasan dan Husen putera Ali bin Abi Thalib.
  2. Yang datang pertama kali adalah Mubaligh dari India Barat, tanah Gujarat. Alasannya karena ada persamaan bentuk nisan dan gelar nama mubaligh yang oleh Belanda dianggap sebagai kuburan orang-orang Islam yang pertama di Indonesia. [16]

 E.     Teori / Pendapat Kedatangan Islam Mengenai Cara

Proses masuknya Islam ke Indonesia pertama kali melalui lapisan bawah, yakni masyarakat sepanjang pesisir utara. Dalam hal ini yang membawa dan memperkenalkan Islam kepada masyarakat Nusantara adalah para saudagar-saudagar muslim, baik yang datang dari Gujarat maupun yang datang dari Arab dengan cara berdagang.

Dari hubungan berdagang inilah maka akhirnya mereka saling mengenal dan terjadilah hubungan yang dinamis di antara mereka. Hubungan yang harmonis ini dimanfaatkan oleh para saudagar sebagai momentum yang sangat tepat untuk memperkenalkan Islam dengan damai. [17]

Disamping melalui perdagangan, Islam juga disebarkan melalui perkawinan yaitu para saudagar muslim kawin dengan wanita-wanita Nusantara (Indonesia), sehingga dengan perkawinan ini proses Islamisasi-pun terjadi. [18] Bila seorang pedagang beragama Islam menikah dengan seorang perempuan pribumi, tentulah si perempuan akan mengikuti agama suaminya. Setelah itu, menyusul pula anggota keluarganya yang lain. Bila seorang raja di suatu daerah masuk Islam, akan segera menyusul pula para bawahannya. Dengan cara demikian, Islam mulai berkembang pesat di Pulau Jawa. [19]

 

Referensi

Andewi Suhartini. 2009. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam Depag RI.

Yahya Harun. 1995. Sejarah Masuknya Islam di Indonesia. Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta.

Capt.R.P.Suyono. 2003. Peperangan Kerajaan di Nusantara Penelusuran Kepustakaan Sejarah.  Jakarta: Grasindo.

Ahmad Mansur Suryanegara. 2009. Api Sejarah. Bandung: Salamadani Pustaka Semesta.


[1] Andewi Suhartini. 2009. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam Depag RI hlm. 141

[2] Ibid. hlm: 143

[3] Capt.R.P. Suyono. 2003. Peperangan Kerajaan di Nusantara Penelusuran Kepustakaan Sejarah. Jakarta: Grasind, hlm. 22.

[4]  Ahmad Mansur Suryanegara. 2009. Api Sejarah.  Bandung: Salamadani Pustaka Semesta, hlm. 29.

[5] Ibid

[6] Ibid

[7] Yahya Harun. 1995. Sejarah Masuknya Islam di Indonesia. Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, hlm. 1.

[8] Ibid. hlm 2.

[9] Ahmad Mansur Suryanegara. Op. Cit., hlm 99.

[10] Ahmad Mansur Suryanegara. Op. Cit., hlm 99.

[11] Ahmad Mansur Suryanegara. Op. Cit., hlm 100.

[12] Ahmad Mansur Suryanegara. Op. Cit., hlm 100-101.

[13] Ahmad Mansur Suryanegara. Op. Cit., hlm 102.

[14] Ahmad Mansur Suryanegara. Op. Cit., hlm 103.

[15] Yahya Harun. Op. Cit., hlm 4-5.

[16] Andewi Suhartini. Op. Cit., hlm 142.

[17] Yahya Harun. Op. Cit., hlm 3.

[18] Yahya Harun. Op. Cit., hlm 3.

[19] Capt.R.P. Suyono. Op. Cit., hlm 22.

1 Komentar »

  1. Dan sayangnya, karakter perluasan Islam yang disebarkan oleh para pendahulu dengan tanpa kekerasan dan pedang tersebut mulai memudar untuk konteks Indonesia kontemporer. Islam justru menjadi momok kekerasan oleh segelintir orang yang berusaha mewarnai wacana publik. Islam humanis dan menjunjung tinggi kemanusiaan harus dibangkitkan kembali sebagaimana sediakala ia datang ke Indonesia.
    Artikelnya menarik. Untuk menegaskan bahwa Islam Indonesia secara genetik tidak menyukai kekerasan dan pemaksaan.


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: