MELURUSKAN PERSEPSI TRAUMATIK “WANITA (tidak) DIJAJAH PRIA”

Judul Artikel      : Biro Konsultasi Perkawinan dalam Sejarah Keluarga Jawa Pada Awal Abad ke-20

Penulis             : Mutiah Amini

Diresensi oleh   : Rani Yuanita

 

Menyimak judulnya saja, artikel yang ditulis Mutiah Amini ini sudah menarik. Kita bisa membayangkan apa yang sebenarnya terjadi ketika pada awal abad ke-20 menjadi titik tolak munculnya biro konsultasi perkawinan dalam sejarah keluarga Jawa.

Dalam artikel ini dijelaskan bahwa biro konsultasi perkawinan pada awalnya muncul untuk  mengatasi permasalahan dalam keluarga yang biasanya tidak terungkap ke publik karena dianggap tabu. Latar belakang yang mempengaruhi munculnya biro konsultasi ini pun tidak terlepas dari pengaruh pemikiran etis awal abad ke-20 yang disebut sebagai periode perubahan dalam berbagai aspek kehidupan. Feminisme, dalam hal ini adalah peningkatan martabat perempuan menjadi isu penting kala itu. Dampak dari itu semua, selain pemikiran seorang perempuan untuk meningkatkan kehidupannya, juga melahirkan kesempatan yang lebih luas bagi perempuan itu sendiri untuk lebih terlibat dalam urusan di luar rumah tangga. Tak terelakkan jika muncul aktivis-aktivis perempuan seperti Nyonya S. Mangoensarkoro.

Setelah pemikiran dan keterbukaan yang berkembang, sedikit banyak mempengaruhi pula permasalahan dalam perkawinan atau rumah tangga. Hal yang dulunya dianggap tabu apalagi dalam kultur keluarga Jawa, menjadi semakin terungkap ke ranah publik.

Ada kesan bahwa perempuan (istri) sering menjadi korban dalam rumah tangganya, atas superioritas laki-laki (suami). Permasalahan-permasalahan yang muncul ke permukaan awalnya seputar ketidakberdayaan perempuan, yaitu dimadu (suami melakukan poligami), pernikahan dini karena dijodohkan, tidak ada rasa cinta karena dijodohkan pula, istri yang tidak mendapat nafkah, dan perceraian dengan konflik harta gono gini. Hal tersebut kemudian berlanjut pada permasalahan yang lebih kompleks dengan varian umur dan konflik, seperti istri yang ditinggal suami karena talak, pelajar yang ingin segera menikah padahal masih bersekolah, seorang perempuan yang mulai jatuh cinta pada lawan jenis tetapi tidak tahu cara mengungkapkannya, seorang guru di kota yang beristri perempuan desa yang buta huruf dan pergaulannya terbatas, serta seorang pemuda yang ingin segera menikah tapi belum mempunyai jodoh ditambah kakak perempuannya yang juga belum menikah.

Terdapat hal positif dengan adanya biro konsultasi tersebut, paling tidak membantu pemenuhan hak-hak perempuan khususnya (ketika menjadi korban) dan juga membantu pemecahan permasalahan seputar perkawinan pada masyarakat umum. Kita sebagai orang awam pun menjadi tahu terkait adanya upaya-upaya dan kerja keras dari aktivis biro konsultasi tersebut untuk membantu permasalahan orang lain.

Disamping sisi positif itu, ada hal yang perlu dikhawatirkan ketika membaca artikel ini. Secara umum terlihat bahwa terdapat hubungan antara pemikiran etis dengan feminisme (berlanjut kepada emansipasi perempuan) yang berakibat pemikiran perempuan sebagai istri menjadi lebih berkembang. Pemikiran itu yang mungkin menjadi salah satu faktor munculnya masalah dalam rumah tangga tersebut. Terkadang kita harus hati-hati dengan dampak negatif emansipasi perempuan disamping dampak positif yang ditimbulkan.

Dengan artikel ini pula, seakan menggiring kita pada stigma negatif bahwa perempuan itu adalah korban laki-laki. Hal ini perlu dihilangkan, karena pada dasarnya ketika laki-laki tahu bahwa kodratnya adalah sebagai pelindung perempuan, hal itu pun tidak akan terjadi sehingga sedikit mengurangi kerja biro konsultasi perempuan atau tidak menjadikan biro ini terlalu urgent. Tentu,  jika perempuan sudah merasa dilindungi oleh suaminya/laki-laki dalam rumah tangganya. Laki laki dan perempuan itu bukan musuh, tapi pasangan yang seharusnya saling melengkapi.

Untuk refleksi hari ini dan ke depan, terkait permasalahan-permasalahan yang muncul, seyogyanya, perempuan perlu cerdas, untuk mengambil keputusan tentang usia pernikahan atau keputusan poligami oleh suami, dll. Jadi yang diperlukan adalah pendidikan yang mencerdaskan perempuan bukan emansipasi yang menuntut bahwa perempuan harus setara dengan laki-laki. Jika perempuan cerdas, tentu akan meminimalisir permasalahan dalam keluarga karena semua bisa dimusyawarahkan dengan ilmu dan pengetahuannya, bukan perasaan ditindas karena segalanya harus melalui otoritas suami.

Artikel ini sangat layak dibaca bukan hanya untuk kaum perempuan saja, tapi juga kaum laki-laki. Tidak hanya orang-orang yang sudah berkeluarga saja, tapi juga orang-orang muda. Agar kita semua mengetahui pelajaran masa lalu dalam sejarah yang ditulis dalam artikel ini. Agar kita semua bisa mengambil pelajaran dan menjadi lebih bijak. Waltandzur nafsun maa qaddamat lighad. Allahu’alam.

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: