BAYANG-BAYANG AMERIKA SERIKAT DALAM SEJARAH INDONESIA

Oleh : Rani Yuanita 

 

Pengantar

Perang Dunia antara Blok Barat dan Blok Timur, yang kemudian berlanjut dengan perang dingin berpengaruh terhadap negara-negara di luar aktor utama perang tersebut. Sebut saja negara berkembang, seperti Indonesia yang kemudian mencetuskan Gerakan Non-Blok.

Dapat diketahui bahwa Gerakan Non-Blok umumya adalah pihak yang lemah dalam sistem politik yang didominasi persaingan bipolar. Bersikap tidak memihak terutama menarik bagi kaum pinggiran jika dua negara adikuasa yang saling berhadapan itu tidak dalam keadaan berperang, tetapi juga tidak berdamai. Dengan kata lain mereka dalam keadaan perang dingin. Dalam keadaan begitu, negara-negara lemah itu bisa menjadi obyek persaingan, tetapi tidak menjadi korban perang.[1]

Keberhasilan memperoleh dukungan negara-negara pinggiran itu berarti simbol kemenangan dalam persaingan politik. Selanjutnya negara-negara tersebut akan menjadi target kepentingan politik juga.[2]

 

Amerika Serikat dan Sekutunya dalam Sejarah Indonesia

Keberhasilan Presiden Soekarno memperjuangkan pengembalian wilayah Irian Barat dari kolonial Belanda telah membuat kekhawatiran pihak Inggris. Apalagi masa itu Soekarno sangat dekat dengan Blok Komunis. Bersama China, Indonesia membentuk poros anti imperialisme, yaitu poros Jakarta-Phnom Penh-Hanoi-Peking–Pyongyang.[3] Sebelumnya, dukungan kuat Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia pernah diberikan pada saat Peristiwa Madiun 1948 ketika Indonesia berada di bawah ancaman komunis.[4]

AS dan Inggris tidak tinggal diam melihat ulah Soekarno, AS dan sekutunya itu melakukan provokasi dan propaganda terhadap Indonesia agar terjadi chaos di Indonesia. AS menerapkan kebijakan politik luar negerinya dengan sebutan containment policy (pembendungan komunisme) di Eropa dan Asia.[5]

Indonesia dianggap penting dalam perhitungan politik AS karena Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki jumlah populasi urutan ke-empat, memiliki posisi strategis di Asia, memiliki banyak kekayaan alam, dan memiliki kemampuan militer yang potensial untuk menguasai kawasan Asia Tenggara, terutama wilayah selat Malaka. Akhirnya, dengan cara politik adu domba antara tiga kekuatan yaitu TNI Angkatan Darat-Presiden Soekarno-Partai Komunis Indonesia, mereka berhasil menggulingkan Presiden Soekarno dari kekuasaan politiknya melalui secret operation (operasi rahasia).[6]

Pasca Gerakan 30 September 1965, Indonesia di bawah pemerintahan Soeharto yang korup dijual ke tangan imperialisme AS dan sekutunya. Tragedi pertemuan Mafia Barkeley suruhan Soeharto dengan sejumlah pebisnis dunia di Jeckyll Island, Georgia, AS, Tahun 1967 telah menjadikan Indonesia tak lebih dari negara bagian AS yang ke-51 setelah Hawaii. Suharto dan Mafia Barkeley sebenarnya harus bertanggung jawab atas semua krisis dan kebangkrutan Indonesia sampai sekarang  .[7]

Sejak saat itu, kekuatan lobi AS beserta sekutu-sekutunya berhasil menguasai Indonesia baik di bidang ekonomi, politik, budaya, maupun pertahanan keamanan.[8] Perubahan arah politik luar negeri ditunjukkan dengan sejumlah upaya riil [9] yaitu :

  1. Indonesia segera menghentikan konfrontasi dengan Malaysia. Upaya Indonesia untuk menghentikan konfrontasi tersebut disambut bai oleh AS dan Jepang. Hal ini berdampak pada perbaikan hubungan dan bantuan AS terhadap Indonesia
  2. Indonesia kembali bergabung dengan Perserikatan Bangsa Bangsa
  3. Indonesia memutuskan hubungan diplomatik terhadap Republik Rakyat China
  4. Indonesia memperbaiki hubungan diplomatiknya dengan AS, Inggris, dan negara barat lainnya. Setelah itu, hubungan secara bilateral dan multilateral dengan negara barat terus berkembang.

Senada dengan hal tersebut dalam referensi yang lain disebutkan bahwa masuknya Timor Timur (Timtim) ke wilayah Indonesia pada tahun 1976 tidak terlepas dari determinan konstelasi politik internasional di masa perang dingin. Kala itu masuknya Indonesia lewat operasi militer ke Timtim mendapatkan restu negara-negara Barat-liberalis yang tidak ingin melihat Timtim merdeka di bawah pimpinan Fretilin yang berhaluan kiri atau komunis. [10] Kamis, 6 Desember 2001 pemerintah AS membuka arsip tentang persetujuan negara tersebut terhadap rencana masuknya Indonesia ke Timtim.[11]

Di masa krisis ekonomi menjelang berakhirnya orde baru, Presiden Clinton menelpon Presiden Soeharto untuk memastikan bahwa program dana moneter internasional (IMF) akan dilaksanakan secara konsisten.[12] Perhatian istimewa pemerintah AS itu tentu saja berkaitan dengan kepentingan nasionalnya.[13]

 

Pengaruh Amerika Serikat dan Sekutunya dalam Konteks Kekinian

Campur tangan Amerika Serikat dan sekutunya dalam berbagai aspek di Indonesia secara pelan tapi pasti terkuak dalam sejarah. Termasuk pada era reformasi, terlebih pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

SBY diduga adalah presiden ‘pesanan’ Amerika Serikat. Kekuatan lobi AS di Indonesia tidak menginginkan Megawati terpilih kembali sebagai presiden karena Megawati adalah keturunan Soekarno yang dibenci oleh mereka.[14]

Selama presiden SBY berkuasa, sedikit pun tidak pernah menyentuh kasus Soeharto dan tidak berani menasionalisasikan seluruh perusahaan MNC AS di Indonesia, seperti lima perusahaan minyak raksasa AS yang melakukan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi di Indonesia, antara lain: 1) Freeport MCMoran, 2) ExxonMobil, 3) Newmont, 4) Conoco Philips, 5) Chevron.[15]

Salah satu faktor yang mempengaruhi pembuatan kebijakan pemerintah yaitu adanya pengaruh tekanan-tekanan dari luar/kelompok luar.[16]  Tekanan dan ketergantungan terutama dalam aspek politik dan ekonomi Indonesia yang dibangun sejak rezim Soeharto oleh/kepada AS sangat mempengaruhi kebijakan-kebijakan pemerintah saat ini.

Dalam pembentukan kabinet misalnya, banyak dugaan bahwa kabinet SBY dalah pesanan AS pula, misalnya terpilihnya kembali Mari Elka Pangestu sebagai menteri perdagangan. Mari adalah penganut sistem perdagangan bebas yang menguntungkan AS.[17] Ketua komisi IX DPR saat itu, Ribka Tjiptaning, mencurigai adanya keterlibatan CIA dalam penunjukan Endang sebagai menteri  kesehatan. Hal ini terkait Siti Fadilah Supari[18] yang menguak konspirasi AS dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung[19]. Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusahaan dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual dengan harga mahal di negara berkembang. Siti pun memutus kerjasama dengan NAMRU sampai akhirnya Endang menyambung kembali kerjasama itu.[20]

Campur tangan AS secara awam terlihat ketika penyambutan kedatangan Barrack Obama pada tahun 2011 sangat istimewa jika dibandingkan dengan kedatangan pemimpin negara lain. Hal tersebut membuktikan pengaruh AS sangat kuat di dunia, terlebih kepada Indonesia. Intervensi-interveni AS dalam sejarah Indonesia akan terus berlanjut jika Indonesia selalu berada di posisi lemah dan tidak mempunyai pemimpin yang berani. Jadi, apakah sebenarnya Indonesia telah merdeka?

 

 

Referensi

 

Asvi Warman Adam. 2006. Soeharto Sisi Gelap Sejarah Indonesia. Yogyakarta: Ombak.

 

Denny J.A. 2006. Catatan Politik. Yogyakarta: LKIS.

 

Ganewati Wuryandari, dkk. 2008. Politik Luar Negeri Indonesia di Tengah Pusaran Politik Domestik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

J.W. Lotz. 2010. Kepungan Yahudi di Cikeas. Yogyakarta: Pustaka Solomon.

 

Leo Suryadinata. 1998. Politik Luar Negeri Indonesia di Bawah Soeharto. Jakarta: LP3ES.

 

M. Irfan Islamy. 2009. Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijakansanaan Negara. Jakarta: Bumi Aksar.

 

Mohtar Mas’oed. 2003. Ekonomi-Politik Internasional dan Pembangunan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Syamsul Hadi, Andi Widjajanto, dkk. 2007.  Disintegrasi Pasca Orde Baru. Jakarta: Cires FISIP UI.

 

 

 


[1] Mohtar Mas’oed. 2003. Ekonomi-Politik Internasional dan Pembangunan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hlm 121.

[2] Ibid., hlm 124.

[3] J.W. Lotz. 2010. Kepungan Yahudi di Cikeas. Yogyakarta: Pustaka Solomon, hlm 18-19.

[4] Leo Suryadinata. 1998. Politik Luar Negeri Indonesia di Bawah Soeharto. Jakarta: LP3ES, hlm 175.

[5] J.W. Lotz. Op. Cit., hlm 18-19.

[6] J.W. Lotz. Op. Cit., hlm 18-19.

[7] J.W. Lotz. Op. Cit., hlm 21.

[8] J.W. Lotz. Op. Cit., hlm 25.

[9] Ganewati Wuryandari, dkk. 2008. Politik Luar Negeri Indonesia di Tengah Pusaran Politik Domestik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hlm 120.

[10] Syamsul Hadi, Andi Widjajanto, dkk. 2007.  Disintegrasi Pasca Orde Baru. Jakarta: Cires FISIP UI, hlm 193.

[11] Asvi Warman Adam. 2006. Soeharto Sisi Gelap Sejarah Indonesia. Yogyakarta: Ombak, hlm 90-91.

[12] Denny J.A. 2006. Catatan Politik. Yogyakarta: LKIS, hlm 109.

[13] Ibid., hlm 110.

 

[14] J.W. Lotz. Op. Cit., hlm 123.

[15] J.W. Lotz. Op. Cit., hlm 124.

[16] M. Irfan Islamy. 2009. Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijakansanaan Negara. Jakarta: Bumi Aksar, hlm 25-26.

[17] J.W. Lotz. Op. Cit., hlm 125.

[18] Menteri Kesehatan sebelumnya.

[19] Diduga terdapat andil dari Endang, diduga Endang-lah yang membawa virus H5N1 ke Hanoi tanpa ijin Menkes saat itu.

[20] J.W. Lotz. Op. Cit., hlm 126-127.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: