SEJARAH SOSIAL

Oleh :

Rani Yuanita

 

  1. A.      Sejarah Sosial

Sejarah sosial mempunyai bahan garapan yang luas. Dalam pengertian sejarah sosial masih banyak lagi yang dapat dikerjakan, selain meneliti masyarakat secara total atau global. Tema-tema seperti sejarah sebuah kelas sosial, terutama sejarah kaum buruh, menjadi tema yang penting dalam sejarah sosial di Inggris, dan tentu saja bagi kebanyakan penulis sejarah berhaluan Marxis. Sejarah peranan sebuah kelas, sepanjang ia tetap merupakan sejarah dari sebuah unit masyarakat dengan ruang lingkup dan waktu yang tertentu dapat digolongkan dalam sejarah sosial.[1]

Selanjutnya, pembicaraan mengenai sebuah kelas sosial tidak hanya selalu terbatas dalam pengungkapan mengenai kelas itu sendiri. Tulisan Emmanuel La Roy Ladurie, The Peasants of Languedoc, misalnya, tidak hanya membicarakan mengenai petani, tetapi juga mengenai masyarakat pedesaan pada umumnya. Jadi tulisan Ladurie itu juga dapat digolongkan dalam sebuah sejarah total atau global.[2]

Tema lain yang dapat digarap oleh sejarah sosial ialah tentang peristiwa-peristiwa sejarah. Tulisan-tulisan Mousnier tentang pemberontakan petani adalah salah satu contohnya. Demikian juga tulisan Sartono Kartodirdjo, Peasants’ Revolt of Banten in 1888 barangkali merupakan sejarah sosial pertama di Indonesia yang ditulis dalam historiografi Indonesia.[3]

Di tengah-tengah perkembangan pemikiran historiografi Indonesia yang dibangun sebagai reaksi terhadap cara pandang dan sejarah orang Barat serta kekuasaannya di Indonesia, Sartono Kartodirdjo mempertahankan tesisnya tentang pemberontakan petani Banten. Kajian yang ia lakukan telah memperkenalkan petani yang mempresentasi sejarah orang kecil sebagai kategori baru dalam historiografi Indonesia yang sebelumnya didominasi oleh Raja dan kerajaannya, orang besar atau pahlawan. [4] Ini berarti Sartono tidak hanya memperkenalkan petani sebagai kategori baru, ia juga memperkenalkan sejarah sosial sebagai jenis sejarah baru dalam historiografi Indonesia di samping sejarah politik yang sangat dominan sebelumnya.[5]

Institusi sosial juga merupakan bahan garapan bagi sejarah sosial. Termasuk di sini ialah tulisan Philippe Aries, Centuries of  Childhood yang membicarakan mengenai lembaga keluarga, terutama mengenai bagaimana anak-anak dibesarkan pada abad ke-17 dan ke-18. Tema ini sangat menarik karena dapat mengungkapkan asal-usul sejarah dari kelembagaan dunia modern yang tentu mempunyai perspektif ke depan yang penting. Transformasi masyarakat dengan adanya pembagian kerja sosial yang semakin rumit dan diferensiasi sosial yang semakin bercabang. Dalam sejarah Indonesia kita belum banyak mengerti misalnya bagaimana anak-anak dibesarkan pada abad-abad yang lalu, bahkan dari keluarga-keluarga yang mungkin menyimpan banyak keterangan sejarah seperti kaum bangsawan. Sumber sejarah mengenai keluarga bangsawan di masa lalu masih cukup banyak dan tersimpan dengan baik, sehingga dapat merupakan bahan kajian sejarah sosial.[6]

Hal ini diperparah bahwa seolah-olah masyarakat Indonesia baru memiliki sejarah ketika mereka bersentuhan dengan kekuasaan kolonial. Jika tidak, maka tidak ada masa lalu yang pantas dikonstruksikan sebagai sejarah. Padahal, masa lalu seperti itu sebagian besar berkaitan dengan masyarakat kebanyakan, terutama tentang kehidupan mereka sehari-hari.[7]

Akhirnya, sejarah sosial dapat mengambil fakta sosial sebagai bahan kajian. Tema seperti kemiskinan, perbanditan, kekerasan, kriminalitas dapat menjadi sebuah sejarah. Demikian juga sebaliknya kelimpah-ruahan, kesalehan, kekesatriaan, pertumbuhan penduduk, migrasi, urbanisasi, dan sebagainya. Demikianlah misalnya karya Peter Laslett, Family Life and The Illicit Love in Earlier Generation yang mengungkapkan mengenai lahirnya anak-anak haram pada masyarakat Inggris pada zaman Victorian yang terkenal dengan ketertiban moralnya. Dengan data-data dari catatan-catatan gereja terungkaplah ikhwal sosial tentang percintaan yang tersembunyi itu.[8]

 

  1. B.      Model Penulisan Sejarah Sosial
  2. Model Evolusi

Model yang pertama ini disebut model evolusi untuk menunjukkan jenis penulisan yang melukiskan perkembangan sebuah masyarakat itu berdiri sampai menjadi sebuah masyarakat yang kompleks. Tentu saja model ini hanya dapat diterapkan pada bahan kajian yang memang mencoba mengkaji masyarakat dari permulaan berdirinya, yaitu jika memang sumber-sumber sejarahnya memungkinkan untuk penulisan yang seperti ini. Kebanyakan kota-kota di Amerika Serikat memenuhi kriteria tersedianya bahan untuk jenis penulisan ini.[9]

Model ini mejelaskan bahwa semakin jauh waktu berjalan, semakin kompleks kehidupan masyarakat.[10] Sekalipun sebuah kota di Indonesia model penulisan yang mengikuti dari awal pertumbuhan merupakan pekerjaan yang tak mudah, tapi kota-kota yang didirikan seperti Batavia yang kemudian menjadi Jakarta, atau kota-kota pelabuhan dapat ditulis dengan model ini.[11]

  1. Model Lingkaran Setan

Model ini tidak menulis mengenai kota atau masyarakat dari awal, tetapi dari titik yang sudah menjadi. Setiap penulisan yang bertolak dari titik sejarah di tengah-tengah demikian biasanya selalu dimulai dengan lukisan sinkronis tentang masyarakat itu, baru kemudian secara diakronis ditunjukkan pertumbuhannya.[12]

Dalam kerangka pemikiran demografis ini, terdapat urutan dinamika sejarah yang secara bergantian bepusat pada lingkaran tertentu, dan merupakan sebab akibat yang tak terelakkan setiap perkembangan baru berpusat pada satu gejala pokok.[13]

Dalam sejarah Indonesia barangkali sulit untuk mencari yang sepadan dari model ini, karena perkembangan sejarah Indonesia banyak ditentukan oleh kekuatan-kekuatan di luar, seperti imperialisme. Tetapi jika kita melihat lebih dalam lagi, barangkali perkembangan sejak zaman Mataram Lama sampai Mataram dapat dilihat dari perspektif semacam ini.[14]

  1. Model interval

Model ini merupakan kumpulan dari lukisan sinkronis yang diurutkan dalam kronologis sehingga tampak perkembangannya, sekalipun tidak tampak benar hubungan sebab akibat.[15]

Prospek dari pendekatan ini dapat dilihat dari kemungkinan tersedianya sumber sejarah, terutama kalau kita mengingat bahwa sensus penduduk di Indonesia tidak secara teratur. Ada sejumlah bahan-bahan statistik yang memungkinkan untuk menulis secara ini, setidaknya karena adanya sensus pada tahun 1905, 1920, 1930, 1960, dan seterusnya. Dari data geografis ini tentu dapat dilihat perkembangan suatu unit geografis tertentu seperti sebuah kota atau daerah.[16]

  1. Model Tingkat Perkembangan

Model ini adalah penerapan dari teori perkembangan masyarakat yang diangkat dari sosiologi.[17] Disini akan dikemukakan tulisan Neil J. Smelser tentang revolusi Industri sebagai contoh, yaitu “Sociological History: The Industrial Revolution and the British Working-Class Family”. Dalam tulisannya yang dengan tegas dinyatakannya sebagai sejarah sosiologis itu, sosiolog Smelser memakai model diferensiasi struktural untuk melukiskan tahap-tahap perkembangan Revolusi Industri dan masyarakat Inggris, khususnya golongan pekerjanya.[18]

Dengan singkat model ini mengatakan bahwa dalam sebuah kondisi tertentu, struktur sosial akan berubah sedemikian rupa sehingga peranan yang semula meliputi berbagai tipe kegiatan menjadi semakin terspesialisasi, dengan kata lain struktur sosial menjadi semakin kompleks dan dipilah-pilahkan.[19]

  1. Model Jangka Panjang-Menengah-Pendek

Model ini diambil dari cara Fernand Braudel menangani sejarah sosial. Braudel membagi sejarah dalam tiga macam keberlangsungan. Pertama, ialah sejarah jangka panjang yang perubahannya sangat lamban. Kedua, ialah perkembangan yang lamban, tetapi dapat dirasakan ritmenya. Ketiga, ialah sejarah jangka pendek, yaitu sejarah dari kejadian-kejadian.[20]

Dalam sejarah Indonesia, sebagai contoh misalnya disertasi Soetjipto Tjiptoatmodjo (1983) mengenai selat Madura tampak sedikit banyak usaha ke arah penulisan sejarah yang demikian.[21]

  1. Model Sistematis

Model ini terutama sangat sesuai untuk menelusuri sejarah sosial dalam arti perubahan sosial. Dalam model ini diterapkan pendekatan behavioral sciences untuk sejarah dan hasilnya adalah sejarah institusional yang menekankan lebih banyak pada perubahan dalam perilaku yang terkondisi daripada uraian sejarah yang melukiskan kejadian politik, orang-orang besar, dan kejadian-kejadian yang menarik. [22]

 

 

Referensi :

 

Henk Schulte Nordholt, dkk (Ed). 2008. Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia. Jakarta: Obor.

 

Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah. Yogya: Tiara Wacana.


[1] Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah. Yogya: Tiara Wacana, hlm 39-40.

[2] Ibid, hlm 40.

[3] Ibid

[4] Henk Schulte Nordholt, dkk (Ed). 2008. Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia. Jakarta: Obor, hlm 265-266.

[5] Ibid, hlm 266.

[6] Kuntowijoyo. Op. Cit, hlm 41.

[7] Henk Schulte Nordholt, dkk (Ed). Op. Cit, hlm 268.

[8] Kuntowijoyo. Op. Cit, hlm 41.

[9] Kuntowijoyo. Op. Cit, hlm 47.

[10] Kuntowijoyo. Op. Cit, hlm 48.

[11] Kuntowijoyo. Op. Cit, hlm 49.

[12] Op. Cit.

[13] Kuntowijoyo. Op. Cit, hlm 50.

[14] Kuntowijoyo. Op. Cit, hlm 51-52.

[15] Kuntowijoyo. Op. Cit, hlm 52.

[16] Kuntowijoyo. Op. Cit, hlm 53.

[17] Op. Cit.

[18] Kuntowijoyo. Op. Cit, hlm 54.

[19] Op. Cit.

[20] Kuntowijoyo. Op. Cit, hlm 56.

[21] Kuntowijoyo. Op. Cit, hlm 57.

[22] Kuntowijoyo. Op. Cit, hlm 58.

[6] Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto 1993. Sejarah Nasional Indonesia VI.Jakarta: Balai Pustaka, hlm. 487.

 

[7] A. Kardiyat Wiharyanto. Op. Cit, hlm. 202.

[8] Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. Op. Cit, hlm. 488.

[9] Menolak atau penolakan terhadap dekolonisasi.

[10] A. Kardiyat Wiharyanto. Op. Cit, hlm. 203.

[11] A. Kardiyat Wiharyanto. Op. Cit., hlm. 204.

[12] Dikenal dengan Deklarasi Balibo.

[13] A. Kardiyat Wiharyanto. Op. Cit., hlm. 204.

[14] A. Kardiyat Wiharyanto. Op. Cit., hlm. 204-205.

[15] Syamsul Hadi, Andi Widjajanto, dkk. Op. Cit., hlm. 189.

[16] Soenarto HM. 2003. Pergulatan Ideologi dalam Kehidupan Berbangsa. Jakarta: Lembaga Putra Fajar, hlm. 94.

[17] Ibid.

[18] A. Kardiyat Wiharyanto. Op. Cit., hlm. 205-206.

[19] Rosihan Anwar. 2004. Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia. Jakarta: Kompas, hlm. 29.

[20] Ibid., hlm. 45.

[21] A. Kardiyat Wiharyanto. Op. Ci.t, hlm. 208.

[22] Asvi Warman Adam. 2006. Soeharto Sisi Gelap Sejarah Indonesia. Yogyakarta: Ombak, hlm. 91.

[23] Presiden Amerika Serikat.

[24] Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.

[25] Tono Suratman. 2002. Untuk Negaraku Sebuah Potret Perjuangan di Timor Timur. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, hlm. 12.

[26] Melalui Perdana Menteri Gough Whitlam untuk mengirimkan tentara.

[27] Ibid., hlm 13.

[28] Syamsul Hadi, Andi Widjajanto. Op. Cit., hlm. 193.

[29] Asvi Warman Adam. Op. Cit., hlm. 90-91.

[30] Asvi Warman Adam. Op. Cit., hlm. 87.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: